Bukan karena saya menganggap HOTS tidak penting. Justru karena terlalu penting, saya merasa kata itu sekarang terlalu sering dipakai sembarangan.
Sedikit-sedikit HOTS.
Soal harus HOTS. LKPD harus HOTS. Pembelajaran harus HOTS.
Kalau soal meminta anak mengingat, dianggap kuno. Kalau anak berlatih memahami konsep, dianggap masih LOTS. Seolah-olah C1, C2, dan C3 adalah sesuatu yang harus segera kita tinggalkan agar terlihat sebagai guru modern.
Lalu kita bangga ketika anak diberi soal yang panjang, rumit, dan membuat dahi berkerut.
“Ini HOTS, Bu.”
Oh, begitu? Sejak kapan membuat anak bingung menjadi ukuran tingginya kualitas berpikir?
Anak belum menguasai perkalian, diberi soal cerita tiga paragraf. Anak masih kesulitan memahami bacaan, diberi pertanyaan tentang pesan tersirat. Anak belum memahami pecahan, diminta mengevaluasi strategi pembagian.
Lalu semuanya diberi satu label:
HOTS.
Padahal mungkin anak hanya sedang bertanya:
“Ini sebenarnya dikali atau dibagi?”
Mari kita jujur: soal sulit tidak otomatis HOTS. Soal panjang tidak otomatis HOTS. Soal yang membuat anak pusing juga tidak otomatis HOTS.
Anak bisa pusing karena sedang berpikir.
Tetapi anak juga bisa pusing karena kita memberinya sesuatu yang belum siap ia pikirkan.
Di sinilah kita sering keliru.
Kita meminta anak menganalisis tanpa memastikan ia punya pengetahuan untuk dianalisis. Kita meminta anak mengevaluasi tanpa memastikan ia memahami objek yang dievaluasi. Kita meminta anak mencipta tanpa memberinya bahan untuk dikreasikan.
Kita ingin anak sampai ke lantai tiga, tetapi malu membicarakan fondasi.
Padahal tidak ada bangunan yang menjadi hebat karena fondasinya diabaikan.
Tidak ada koki yang bisa memasak hanya bermodal kreativitas tanpa mengenal bahan.
Dan tidak ada anak yang bisa berpikir tentang sesuatu yang sama sekali tidak ia ketahui.
Maka jangan buru-buru mencibir LOTS.
Mengingat bukan dosa. Menghafal bukan kegagalan. Pengetahuan dasar bukan pembelajaran kelas dua.
Anak perlu mengetahui sebelum memahami. Perlu memahami sebelum menerapkan. Dan dari sanalah ia punya bekal untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Masalahnya bukan LOTS.
Masalahnya adalah berhenti di LOTS.
Tetapi memaksa anak ke HOTS tanpa bekal pengetahuan juga bukan kemajuan.
Itu seperti menyuruh anak memasak sambil mencibir tepung sebagai “level rendah”.
Kita akhirnya sibuk membuat pembelajaran terlihat HOTS, tetapi lupa memastikan anak benar-benar belajar.
Maka saya tidak ingin HOTS dibuang.
Saya hanya ingin HOTS ditempatkan pada tempatnya.
Gunakan ketika memang diperlukan. Bangun pengetahuan ketika memang diperlukan. Latih dasar-dasar ketika memang diperlukan.
Sebab anak tidak hanya perlu diajari bagaimana berpikir. Mereka juga perlu diberi sesuatu untuk dipikirkan.
Jadi kalau besok ada yang bertanya:
“Pak, pembelajaran ini HOTS atau LOTS?”
Saya mungkin akan menjawab:
“Saya tidak terlalu peduli labelnya. Yang saya pedulikan: apakah anak saya tahu, memahami, mampu menggunakan, dan akhirnya mampu berpikir?”
Karena pendidikan bukan perlombaan untuk mencapai C6.
Kita tidak sedang mencetak anak yang pandai menyebut level kognitif. Kita sedang membangun manusia yang punya pengetahuan dan mampu menggunakannya untuk berpikir.
Dan kalau untuk mengatakan itu saya dianggap kurang HOTS—
ya sudah.
Setidaknya saya tidak menyuruh anak membangun lantai tiga sebelum memastikan fondasinya cukup kuat.

0 Komentar